Sabtu, 19 Juli 2008

MUTIARA



Mutiara, potensi yang tersembunyi
dalam warna gelap dan hitamku


Sewaktu saya berjalan bersama kakak yang selalu mengenakan kacamata sehingga terlihat seperti superboy itu mengatakan kepadaku, ” kamu bisa maju dan berusaha entah itu dalam berbisnis atau apa saja tetapi yang membuat kamu terhalang adalah kulitmu. Kulit itu membuat orang tidak percaya karena kulit kamu itu identik dengan ketidakbisaan dan tidak bisa dipercaya. Kaka bisa maju menjadi kulitmu tetapi kamu harus belajar sendiri supaya ada orang Papua yang mampu dan bisa dipercaya”. Kata-katanya seperti menghinaku tetapi saya balik bertanya pada fakta yang terjadi dan itu adalah realita. Ia memberitahuku lagi, ” kamu punya potensi, maka itu belajar teruslah sampai kamu bisa dan banyak orang bisa mempercayaimu”. Dengan memberikan ilustrasi, ” hitam-hitam Kereta Api banyak yang menunggu dari berbagai kalangan karena Kereta Api telah mencuri kepercayaan semua orang dengan mengangkut dan mengantar penumpangnya sampai kepada tujuan mereka, maka kamu juga bisa membawah orang-orang kepada tujuan mereka masing-masing, saat itulah kepercayaan itu berdatangan”.

Kebanyakan orang selalu memandang dan mengutamakan penampilan. Ketika mutiara menampilkan yang tampak atau bagian yang kelihatan darinya, kadang menjadi bagian yang tercemohkan, diabaikan bahkan tidak diperdulikan. Coba aja kalau yang tertampil didepan itu putih kekuning-kuningan yang berkilauan yang memancarkan cahayanya. Pasti mata yang dalampun melotot keluar untuk memandangnya. Tapi semoga saja Aura bisa berbicara jujur dengan pancaran sinarnya dan berpihak kepada siapa ia harus meneranginya.

Saat saya sekolah di SMK Neg. 1 Batubulan di Bali, begitu banyak respon atas butanya pandangan mereka oleh realitas yang hanya terlihat oleh kasat mata teman-temanku. Mereka tidak melihat potensi mutiaraku yang sedang saya perjuangkan untuk dikeluarkan. Dan sedikit dari pucuk potensiku yang sudah ku perlihatkan melalui juara di kelasku. Tetapi mereka mempertebal selubung hitam yang menutupku dengan hinaan, cemoh bahkan mereka meremehkanku bahkan juga dari bibir penghinaan mereka terucap kata-kata menyuruhku pulang saja ke Papua. Tetapi dalam keadaan seperti itu kata-kata pembangkit urat nadi perjuanganku selalu keluar memberitahuku untuk tetap berjuang. Entah siapa yang membisikkan, teriakan itu bangkit terus saat kondisi yang kritis dan melemah sekalipun.

Hal-hal itu adalah bagaimana dunia di sekitar kita yang selalu menghalangi dalam perjuangan mengeluarkan potensi itu. Tetapi berbagai kesadaran selalu muncul bahwa tantangan bukanlah halangan yang merintangi perjalanan panjang menuju pembebasan potensi dari kebodohan, ketiadaan bahkan kemelaratan dan jalan yang buntu.

Kata-kata yang selalu terucap dari relung hati untuk memotivasi diriku adalah, “ hitam bukan berarti kegelapan yang harus tengelam di antara putih-putih tetapi dalam hitamnya mutiara tersembunyi potensi tak ternilai yang bermakna kekal”. Kalimat ini selalu membangkitkan nyali dan semangat juang dari berbagai respon atas betapa gelapnya mutiara diriku.

Kawan-kawan sekelasku, mereka tidak mengerti apa fungsi warna hitam dalam penerapannya. Padahal di kelas satu kita sudah mempelajarinya. Warna hitam selalu memberikan penekanan atau volume pada sebuah karya seni supaya karya terkesan kedalaman dan berisi. Sebenarnya dalam kelas itu, saya memberikan volume dan isi namun keberadaanku adalah isi yang tidak dianggap.

Tuhan yang Mahakuasa datang ke dunia dari surga yang abadi hanya untuk menyelamatkan mutiara kekekalan yang tersembunyi dibalik hitamnya dosa yang menyelubungi manusia. Kalau saja Tuhan melihat dosa manusia yang hitam pekat, untuk apa datang membasuh kotoran dosa dengan darah kudus yang tanpa noda dengan kematianNya di salib?. Itu semua hanya karena ada nilai, makna dan rupa kekekalan Tuhan di dalam diri kita manusia sehinga potensi kekekalan ini perlu diselamatkan.

Dalam lambang-lambang warna, warna hitam memberi pengertian bahwa hitam melambangkan kematian, kegelapan, kesungghuan, kekal dan berat. Artinya mati untuk menunaskan benih kekal dan kegelapan artinya benih yang kita tanam kadangkala tidak memperlihatkan tunasnya tapi dengan berjalannya waktu hitam selalu membuktikan dirinya sungguh-sungguh kekal dan akan menghasilkan sesuatu yang berbobot, berisi padat atau berat.

Melalui semua selubung yang berlapis menumpuk tidak menciutkan nyali juang hidupku tetapi hal-hal tersebut memperbesar mutiara karakter hidup melalui nilai-nilai kesabaran, ketekunan, kesetiaan dan fokus pada tujuan serta kasih dalam persahabatan yang ku jalin dengan sahabat-sahabatku dalam penghinaan mereka yang semestinya menjadi penghancur dan perusak mutiaraku, tetapi dalamnya itu kutemukan mutiara menjadi semakin besar yang bermakna dan semua orang tunduk tak berbicara ketika terlihat bukti dirinya adalah mutiara sejati.

Mutiara sesuatu yang gelap dan dipandang remeh ketika potensi, kapatitas dan lambang kemewahan itu diselubungi hitam yang gelap. Karena hitam mutiara diabaikan dan tidak dianggap. Dianggap representasi dari kegelapan, dianggap sampah tetapi sesungguhnya adalah mengandung nilai, fungsi dan makna yang berharga dan abadi bagi yang memilikinya.

Ellya alexander tebay

Jumat, 23 Mei 2008





Doa adalah Nafasku

Berdoa adalah nafas dari kehidupan manusia. coba saja kalau kamu tidak percaya jangan berdoa saat masalah menghimpit dan mengrogoti hidupmu, misalnya ketika susah cari kerja, pacar, tidak punya uang, kepingin punya baju baru dalam semua hal ini pasti manusia akan berdoa untuk mendapatkannya. Kalau tidak berdoa maka manusia sering kali kelihatan seperti orang yang tidak bernafas dan ingin mati saja, ingin bunuh diri, tidak berharga, kecewa dan sakit hati. coba saja ketika mengalami semua itu masuk dalam dimensi doa dari hidupmu, maka kamu akan mendapatkan dan akan diselimuti atmosfer yang membuat kamu legah tanpa beban seolah anda menghirup udara segar dan hidup di dunia yang berbeda dari sebelumnya.

Lukisan ini di koleksi oleh Pak Harry Wijaya, Penulis buku CLIMBER ( kehidupan pelayanan Bpk. Ev. Daniel Alexander). tinggal di Jakarta.

Minggu, 18 Mei 2008

Bantuan Langsung Tunai BBM

Bantuan Langsung Tunai BBM

( Dana Kompensasi dan Implikasi Kompleks Atas Kebijakan pemerintah menaikan Tarif BBM Bersubsidi )

Satu lagi peluruh isu dibuang ke masyarakat kita yang tidak tahu-menahu oleh pembesar dan penguasa negri ini untuk menguji dan mengasah sejauh mana kuasa dan kekuatan ampuh mereka. Isu kenaikan BBM menjadi berita paling hangat beberapa hari terakhir ini. Sebagian besar kuatir karena ini akan memicu kenaikan harga barang dagangan lainnya bahkan malah hanya sebatas isu saja barang-barang sudah naik. Orang menyikapinya dengan berbagai tanggapan. Karena akibat dari kenaikan BBM merekalah yang akan merasakannya bukan kaum pemgambil kebijakan itu.

Dari kalangan mahasiswa dan pemuda diberbagai tempat yang ada di Indonesia, mereka berdemo menolak kenaikan BBM. Karena dampak kenaikan BBM akan terusik dan terpuruk pada roda perekonomian rakyat kecil. Mereka menjadi korban ketergantungan terhadap Negara padahal selama hidup mereka Negara tidak pernah menjamin sepenuhnya untuk memenuhi setiap kebutuhan kehidupan masyarakat. Namun ketergantung Negara Indonesian kepada Negara kapitalis membuat masyarakatpun ikut menderita.

Dana kompensasi hanyalah menyelubungi tirai dibalik isu kelaparan, gempa, wabah dan lainnya yang selalu dan sudah terbiasa di negri ini untuk dijadikan proyek. Maka sudah jelaslah kesempatan bantuan ini akan dimanfaatkan oleh oknum-oknum tertentu untuk memperkaya diri. Maka muncullah orang kaya-kaya baru. Yang pasti kaya seperti apa tidak tahu, tetapi kaya diatas penderitaan rakyat kecil yang ekonominya lemah.

Bantuan itu pemerintah daerah tidak pernah menyalurkan langsung ke masyarakat yang membutuhkan. Ini hanyalah sebuah proyek pemerintah untuk memperkaya diri mereka sendiri. Karena tidak pernah tersalur pada sasaran masyarakat yang membutuhkan. Yang sering antri adalah orang-orang yang pakai motor tiger, mobil mewah saja lebih banyak untuk mendapatkan dana kompensasi itu. Masyarakat kecil antri sampai banyak yang pingsang dan mati. Padahal yang antri itu bukan yang layak mendapatkan maka korban adalah masyarakat kecil.

Dana kompensasi yang bersifat Bantuan Langsung Tunai (BLT) ini Negara harus mendata secara akurat dan jelas agar penyaluran juga tepat sasaran. Dan seharusnya diberikan sesuai keahlian sehingga mereka memanfaatkan potensinya. Biar BLT menjadi modal untuk mengembangkan usaha masyarakat bukan bantuan hanya kasuistik dan bersifat proyek yang sebentar dapat hilang dalam sekejap tanpa jejak. Tetapi mesti tujuannya adalah untuk membangun ekonomi rakyat. Tidak membuat masyarakat kecik kaget dengan uang-uang kaget tersebuat.

Atau bantuan tersebut jangan bersifat seperti salah satu acara kuis di TV “kenah deh…”, bagi yang mendapatkan adalah yang bisa menjawab pertanyaan kuis tersebut tanpa pandang siapa dia dan dia adalah orang beruntung yang seolah nasibnya mujur. Tetapi sekalipun dia itu masyarakat kecil yang tidak mampu menjawab kuis tersebut maka ia tidak mendapatkan bantuan berupa uang Rp. 100.000 yang kalau bisa menjawab satu-dua pertanyaan itu. Masyarakat yang tidak mampu diajak kompetisi dengan orang berduit dalam mengambil uang kaget, bagi siapa yang jago akan mendapatkan itu.

Masyarakat kecil selama ini banyak yang depresi, sakit bahkan sakit jiwa sehinga masuk ke rumah sakit jiwa dimana ongkos yang akan mereka keluarkan selama perawatan lebih banyak ketimbang dana kompensasi BBM yang didapatkan bahkan malah mungkin tidak mendapatkannya. Berhentilah membantai dan mengorbankan rakyat kecil dengan berbagai cara demi meloloskan suatu kepentingan, karena nyawa mereka lebih berharga ketimbang sebuah kepentingan itu. Loloskanlah nyawa mereka, jangan mengorok dan menjepit oleh kepentingan yang tidak kekal itu.

Kalau pemerintah Indonesia memang benar berniat membantu kebutuhan rakyatnya, maka semestinya memperdayakan atau memperkerjakan masyarakat melalui koperasi RT, RW, atau Desa. Sehingga dapat menumbuhkan ekonomi rakyat melalui Perikanan, kehutanan, perkebunan juga melalui kerja bersama bukan perorangan, seperti koperasi, kelompok tani sehingga semua orang bisa kerja dan tidak ada yang menggangur. Dengan demikian pemanfaatan dana tersebut jelas sehingga tersentuhlah sesuai dengan kebutuhan ekonomi dan harapan masyarakat.

Tidak ada pemahaman bahwa BLT ini bukan bantuan permanent, tetapi menetralkan kondisi kenaikan BBM saja. Maka pemerintah harus memberikan pemahaman melalui sosialisasi yang jelas agar masyakat memahaminya. Bahkan kalau bisa sejauh sebelum dana itu dibagikan, masyarakat yang layak mendapatkan sudah semestinya didata dan dibagikan sesuai data. Sehingga dengan dana itu masyarakat siap menyambut kenaikan itu, sekalipun itu solusi yang bukan tepat untuk memberikan subsidi kepada masyarakat dengan kebijakan-kebijakan sepihak itu.

Data yang masih dipakai pemerintah adalah data tahun 2005, yaitu data yang sudah expired. BPS tidak menyediakan data yang jelas akan keadaan penduduk berkategori miskin. Kalau BPS di Indonesia tidak berfungsi maka lebih layaknya BPS dibubarkan saja. Karena menunjukkan kinerja yang tidak jelas dan tidak pernah memberikan data yang akurat dan uptodate. Malah pemerintah masih juga memakai data lama yang pastinya tidak akurat akibat PHK, krisis juga berbagai mobilitas penduduk yang selalu berpindah dari satu daerah ke daerah lainnya yang membuat masyarakat miskin semakin bertambah.

Dana lebih banyak habis untuk membayar gaji pegawai BPS diseluruh Indonesia tanpa kerja nyata maka perlu dibubarkab saja. Karena data bisa diambil lewat RT, kepala distrik, Kelurahan. Karena merekalah yang lebih dekat dan tahu tentang data keadaan kelompok-kelompok masyarakat di wilayahnya.

Dinamika setiap perubahan ekonomi Indonesia sudah jelas bukan datangnya dari dalam negri tetapi tergantung dan dikendalikan oleh Negara kapitalis maka pemerintah jangan menutupi kenyataan ini. Perubahan-perubahan ekonomi seiring kenaikan BBM sudah berdampak pada segala sendi perekonamian rakyat. Kenaikan kurs mata uang dollar pun sering berdampak demikian pada perekonomian. Maka kalau bisa pemerintah harus membiayai hidup rakyat Indonesia sesuai dengan kebutuhan mereka berdasarkan data RW, RT, Kepala desa setempat karena mereka yang tahu mana kategori miskin menengah, dan yang kaya. Sehingga itu menjadi salah satu modal dan tumpuhan mereka untuk menjalankan usaha kecil dalam perintisannya.

Bantuan seperti ini membuat masyarakat miskin resah dan bodoh. Kepintaran para pejabat hanya jalan mulus memanfaatkan kebobrokan mental mereka untuk membuat Kalau bantuan bersifat kasuistik seperti ini masyrakat malas dan tidak berdaya sekaligus tidak memperdayakan potensi masyarakatnya. Tetapi itu suatu jalan memamfaatkan potensi penguasa negri ini untuk memasang jerat dan menjaring kekayaan rakyat melalui korupsi dan berbagai cara-cara manipulasinya. Karena sudah jelas tidak ada data, sosialisasi yang jelas memungkin ini adalah proyek terselubung.

Implikasi pembodohan

Di Papua misalnya dana seratus juta perkepala kampung apa yang mereka buat. Kelihatannya tidak ada hasil yang kelihatan. Pemerintah hanya selalu memberikan umpannya saja bukan kail yang mereka akan pergunakan untuk memanfaatkan, mengolah dengan kerja mereka untuk menghasilkan sesuatu yang akan mereka menikmati buahnya.

Cara-cara dari implementasi program ala Indonesia adalah tidak mendidik masyarakat sama sekali. maka perlu adanya data dan kerja nyata yang bisa diwujudkan di masyarakat sehingga hasilnya dapat dipetik dan dinikmati terus-menerus kalau boleh pemerinta harus menanam benih yang dapat bertumbuh menjadi pohon lalu buah selalu bisa di petik pada saat musimnya bukan hanya diberikan buahnya saja umtuk dimakan lalu habis dan lapar lagi.

Pemerintah daerah semestinya bisa memanfaatkan dana-dana seratus juta, pemekaran dan otonami untuk mengadakan praktek, worshop, pelatihan berbagai ketrampilan yang mendidik diberbagai aspek potensi untuk mengali dan mengembangkan potensi yang da disetiap pribadi masyarakat. Pemuda-pemuda yang putus sekolah, tidak sekolah dan yang menggangur bisa direkrut untuk dipersiapkan menjadi tulang punggung ekonami pribadi, keluarga dan masyarakat.

Sayangnya cara bantuan pemerintah Indonesia pada buntutnya adalah dengan pertimbangan agar masyarakat dimelaratkan. Bukannya mendidik malah menciptakan kebodohan dan kemalasan yang akhir juga berbuntut pada kemiskinan yang identik dengan penderitaan dan kemelaratan.

Kenapa tidak ada pendidikan gratis dan kesehatan gratis? Sudah jelaslah uraian diatas bahwa cara-cara itu hanyalah pembodohan maka tidak perlu masyarakat dididik menjadi pintar. Maka tidak perlu untuk mengemis pendidikan dan kesehatan gratis karena di dunia ini tidak ada yang gratis semua beli. Kalaupun dibuat pendidikan gratis, kesehatan gratis. Pasti badan pengawas yang dipilihpun hanya memainkan taktik pengontrolan dilapangan saja. Sekalipun kontrolnya jelas itu hanya jebakan untuk memasang jerat dengan mengetahui dengan jelas kondisi tersebut.

Jadi cara-cara di atas hanyalah untuk memunculkan masalah-masalah baru di masyarakat demi sebuah proyek pengalokasian dana untuk proyek. Jadi bagaimanapun juga rakyat hanya akan terjepit ditengah kepentingan dan bantuan tersebut, inilah yang harus dipahami semua pihak yang menjadi korban permainan elit politik. Tindakan-tindakan elitis beginilah yang terus-menerus Negara dirusak bukan siapa-siapa. Inilah bentuk-bentuk letak rongrongan terhadapa kemelaratan dan kemelut ekonomi Indonesia, bukan masalah separatis dan tuduhan lainnya.

Kenaikan BBM implikasi pada sector informal

Kenaikan BBM telah berimplikasi pada berbagai sector. Sector informal misalnya, seperti rumah tangga telah banyak mendukung dan mepekerjakan begitu banyak pembantu diseluruh Indonnesia. Namun bagaimana dengan kenaikan BBM ini?. Banyak sikap yang bermunculan yaitu sikap ibu-ibu rumah tangga terhadap pembantu-pembantunya. Pembantu-pembantu ini berada diujung tombak keputusan apakah mereka harus dipekerjakan terus atau di-PHK oleh majikan mereka.

Kalau memang harus di-PHK maka kemalangan apakah yang akan menimpa mereka?. Pembantu diselaruh Indonesia kira-kira sudah lebih dari ribuan pembantu. Apakah pemerintah sudah mempersiapkan subsidi buat mereka?. Itu hanya sector informal rumah tangga saja belum lagi usaha-usaha kecil, menenggah dan berskala besar yang dalam proses kerjanya membutuhkan bahan bakar minyak juga usaha-usaha lainnya.

Setiap pengambilan keputusan tidak hanya hitungan diatas kertas atau matematis saja atau untung rugi dalam menjaga dan meloloskan modal asing tetapi semestinya memperhatikan dampak dari kehidupan social masyarakat. Ibarat kepala keluarga memperhatikan istri anaknya bukan meloloskan kepentingan istri selingkuhnya yaitu kepentingan Negara-negara pemegang modal kapitalis. Jadi dampak apa yang akan dialami oleh masyarakatnya adalah harus menjadi pertimbangan wajib dan mendasari pengambilan keputusan dan penetapan kebijakan.

Ada tiga cara antisipasi yang perlu dilakukan ibu rumah tangga membantu dan menutupi kebijakan bobrok pemerintah adalah, pertama Ibu rumah tangga dapat memahami dan mempertimbangkan kondisi pembantu sehingga mampu bekerja sama dengan baik untuk tetap mempekerjakan pembantu dan baby siternya. Kedua, ibu-ibu yang sudah bekerja sebagai wanita karir tetap kerja dan memberikan kesempatan pembantu ataupun baby siter untuk tetap bekerja dirumah. Ketiga, Pembantu-pembantu perlu diperdayakan ke jenjang yang lebih baik. Misalnya memperdayakan pembantu dengan memberikan kursus-kursus, menyopir, jahit dan keterampilan lainnya sehingga ketika dia keluar sudah siap mandiri untuk bekerja sendiri. Sehingga menciptakan pribadi-pribadi mandiri yang merdeka ketika mengalami atau menghadapi kenaikan-kenaikan BBM dan masalah-masalah akibat kebijakan pemerintah yang tidak memihak kepentingan social masyarakat kecil itu.

Penguasa-penguasa pengambil kebijakan Negara ini telah membuat social kehidupan masyarakat ekonomi semakin rusak dan ambur adul. Semestinya mereka harus menciptakan tatanan kehidupan social yang lebih teratur, terarah dan bermartabat. Kepentingan kapitalis dan mentalitas bobrok tidak berpengetahuan para pejabat negri ini telah memperkosa rakyatnya sampai menderita dan mengusurnya di dekat ambang maut.

ellya alexander tebay

Penulis adalah pemerhati dinamika kehidupan seni, sosial budaya dan pariwisata.

Kamis, 17 April 2008

SIAPAKAH?

Pemegang Kuasa dan Kendali

Rakyat Nabire Esok.

Rakyat wae…kopu kuasa mau ko kasih dan percayakan ke tangan siapa?. Karena kepada siapa ko kasih, dia yang akan mengendalikan ko.


Mempersiapkan diri adalah penting sekali dalam segala hal sebelum menghadapi segala sesuatunya, tepatnya sedia payung sebelum hujan. Kondisi itulah yang sedang di alami Kabupaten Nabire, dimana setiap kandidat yang akan menjadi bakal calon bupati mulai mempersiapkan diri. Karena akan melewati tahapan proses yang panjang dalam pemilihan siapa yang akan memimpin dan memegang kuasa rakyat atas kabupaten Nabire kedepan setelah A.P. You dengan masa jabatan kepemimpinannya berakhir.
Kepemimpinan menjadi persoalan penting yang harus dibicarakan secara serius dengan pemikiran yang kritis dari semua kalangan. Karena mereka yang akan memimpin masyarakat yang begitu banyak dari berbagai kalangan. Baik buruknya rakyat, tergantung dari kepemimpinan seorang pemimpin. Setiap keputusan, pilihan dan jalan yang di ambil dan ditempuh seorang pemimpin, di situlah rakyatnya akan mengikutinya. Pemimpin adalah Nahkoda sebuah kabupaten selayaknya Nakhoda kapal.
Setiap kandidat memiliki masa pendukung dan memiliki perahu partai. Maka dalam kompetisi ini, semua kekuatan akan dikerakkan untuk memperjuangkan dan menjagokan kandidatnya masing-masing. Peluang terjadinya ego dalam mempertahankan diri dan dari para pendukungnya mulai sekarang harus diantisipasi dari semua pihak. Setiap calon bupati harus maju dengan jiwa besar. Yang berjiwa kerdil, untuk sementara waktu harus menahan diri untuk mempersiapkan di periode yang akan datang. Karena egosentrisme bisa mengakibatkan hal yang tidak di inginkan bersama.
Seorang bakal calon pemimpin harus bisa menguasai diri dan bisa mengendalikan diri sebelum menjadi pemimpin. Mengapa demikian?. Rakyat yang begitu banyak punya kuasa, akan dipercayakan kepada pemimpin yang akan terpilih untuk dikendalikan olehnya. Lalu bagaimana bila pemimpin yang terpilih tidak bisa menguasai diri?. Itu persoalan yang harus dipahami oleh rakyat, lebih khusus lagi rakyat kecil yang kuasa mereka akan diserahkan kepada siapa yang akan mereka pilih sebagai pemegang kuasa kepemimpinan atas mereka.
Kuasa itu ibarat tali yang mengikat rakyat. Maka tali pengikat rakyat itu akan kita serahkan ke tangan siapa?. Karena nyawah rakyat ada di tangannya, artinya dalam genggaman dan dalam kendalinya. Bila kuasa kendali ada di tangan orang yang kita serahkan kuasa itu untuk menguasai dan memimpin rakyatnya, maka ia yang mengendalikan jalan hidup rakyatnya. Mati atau hidup, menderita atau kehidupan yang layak, lapar atau kenyang, sakit atau sehat, daerah nabire menjadi tempat judi, pelacuran atau tempat beredarnya MIRAS semua tergantung pemimpin yang dipilih. Karena kuasa untuk mengatur rakyat dan daerah yang kita tempati sudah akan kita serahkan ke tangan kendalinya melalui pemilihan langsung nanti.
Menyimak penjelasan di atas terlihat jelas, bila pemimpinnya diktaktor maka rakyat sedang memilih dan menyetujui untuk dipimpin dengan diktaktornya, bila pemimpin itu pembunuh maka rakyat sedang menglegitimasinya melalui pemilihan untuk dia yang membunuhnya tetapi pemimpin yang masyarakat pilih itu suka memperkosa rakyat maka rakyatnya sedang menyetujuinya untuk rakyat diperkosa olehnya. Kenapa demikian?, karena kuasa dan kendali rakyat sudah di serahkan melalui pemilihan dan penentuan siapa yang akan memimpin kita selama lima tahun ke depan. Jadi selama lima tahun hidup rakyat apakah makmur, sejahtera, aman dan damai atau mungkin sebaliknya terganntung pemimpin rakyat itu.
Rakyat harus waspada dan dengan jeli memahami kriteria yang jelas tentang pemimpin yang benar, yang terbukti kinerjanya selama ini untuk dipilih. Karena bila salah memilih maka rakyat bisa masuk dalam perangkap kekuasaannya. Karena kekuasaannya adalah jerat bagi rakyat.
Bila memperhatikan fakta kebanyakan pemimpin selama ini dengan gembar-gembor mengkompanyekan program yang menjadi kebutuhan mendesak rakyat dan atas nama rakyat dan dari rakyat menjadi pemimpin. Tetapi apakah selama ini pengaruh dari hasil kompanye benar-benar tersentuh dan dirasakan sampai ke rakyat jelata. Yang selama ini terjadi adalah oleh kepentingan sendiri lalu bertindak demi dan atas nama rakyat, yang akhirnya menjadi korban adalah rakyatnya yang tidak tahu apa-apa.
Maka setiap hukum serta aturan yang dibuat hanya perpanjangan tangan kekuasaannya untuk menggorok dan menjerat rakyatnya. Hati-hati dengan peraturan yang dibuat yang seolah kepentingan umum untuk ditaati namun tersembunyi jebakan yang memasukkan kedalam perangkap untuk membuat rakyatnya hidup dalam penderitaan.
Menyikapi persoalan kepemimpinan di Nabire ke depan, Derek Tekege S.Sos menyampaikan dalam pertemuan sebuah diskusi bahwa, ” kita jangan takut dengan masa depan pemimpin kita di Nabire, Tuhan Yang Mahakuasa sudah mengatur dan menentukan masa dan saat waktunya siapa yang akan menjadi pemimpin. Yang menjadi tugas kita umat manusia adalah persiapkan diri kita yang mau jadi pemimpin dengan kemampuan bekal rohani, mentalitas, pengetahuan, kemampuan kita bekerja. Dengan semua itu bisa mempengaruhi orang lain, karena itu semua yang dapat dinilai manusia, tetapi Tuhan menilai hati seseorang. Jadi manusia bisa meneyediakan beberapa bakal calon atau kandidat bupati dan memperjuangkannya serta menduga-duga siapa yang akan menjadi bupati, tetapi yang mengambil keputusan untuk menentukan dan terpilih itu adalah urusan Tuhan. Maka bila satu orang yang terpilih itu, maju jadi pemimpin maka yang lain harus mendukung dengan jiwa besar, jangan menjatuhkan”. Ungkapnya. Lalu beberapa selang waktu kemudian Derek Tekege S.Sos juga menghimbau bahwa, ” kita harus memiliki pemimpin yang takut akan Tuhan dan penuh dengan belas kasihan yang benar-benar bekerja untuk rakyat selama ini sebagai bukti dengan pelayanan terhadap masyarakat yang optimal”. Jelasnya dengan nada serius.
Pemimpin seperti diatas dengan kuasa rakyat yang di milikinya akan berkuasa dan memegang kendali rakyat dalam kehendak dan di bawah wibawah dan otoritas takut akan Tuhan. Tanpa adanya takut akan Tuhan dalam hati maka sikap dan perilaku akan membahayakan, dimana akan terjadi berbagai manipulasi yang mengatasnamakan rakyat namun implementasinya bukan berujung pada pemenuhan kebutuhan dan kepentingan rakyat tetapi masuk dalam kebutuhan perutnya dan kepentingannya sendiri.
Dalam pertemuan lain Derek Tekege S.Sos menyampaikan bahwa,” supaya tidak terjadi kesimpangsiuran kepemimpinan maka ada beberapa syarat yang harus di perhatikan oleh setiap calon yang sedang mempersiapkan diri, yaitu pertama ia bisa melanjutkan beberapa program pembangunan Gerban Nun Biru yang memang bagus terbukti sukses dalam pembangunannya. Kedua, yang masih bekerja aktif dengan setia dari dulu sampai sekarang di kabupaten nabire karena ia yang tahu keadaan dan kondisi Nabire. Ketiga, yang mau meninggalkan nama baik kepada anak-anaknya, keluarganya dan generasi penerusnya juga rakyatnya. Bukan meninggalkan harta, mobil yang mewah, rumah mewah dan tanah yang banyak, itu semua akan nyengat dan karat tidak bertahan lama kerena hasil rampok dengan kuasa posisi, padahal itu miliki rakyat. Tetapi nama baik karena kebaikan yang dibuat akan diwariskan dan dikenang selamanya. Keempat, pemimpin yang mau habis-habisan bangun Nabire dan habiskan sisa hidupnya di Nabire. Kelima, memiliki wawasan luas yaitu wawasan nasionalisme Papua dan nasionalime keindonesiaan bukan kedaerahan, kesukuan yang kolot. Supaya mampu memimpin dengan kepentingan rakyat banyak bukan atas kepentingan segelincir orang yang memanfaatkan nama rakyat ” . Papar bapak tiga orang anak yang kesehariannya bekerja di kantor BAPEDA, namun sekarang lagi sedang melanjutkan studi tugas belajar untuk ambil masternya salah satu Universitas di Jakarta.
Demikian pentingnya pemimpin itu maka diharapkan kepada semua komponen masyarakat untuk menentukan pilihan yang tepat, kalau bisa sebelum memilih berdoa terlebih duhulu, supaya dengan hati yang tenang, dengan pasti dan dengan petunjuk yang Mahakuasa bisa memilihnya dengan keyakinan yang mantap. Jadi Rakyat wae…kopu kuasa mau ko kasih ke tangan siapa?. Karena kepada siapa ko kasih, dia yang akan mengendalikan ko.

ellya alexander tebay

Penulis adalah pengamat seni kehidupan.

Selasa, 25 Maret 2008

Rabu, 12 Maret 2008

Babi Berkaki Manusia Dalam Tradisi Natal di Papua

Babi Berkaki Manusia

dalam Tradisi Natal di PApua

Hari itu adalah hari natal tanggal dua puluh lima desember. Hari perayaan natal bagi umat kristiani di seluruh dunia, memperingati hari kelahiran Sang juru selamat Jesus Kristus. yang telah membawah damai dan penebusan atas dosa umat manusia.

Penting dijadikan sebagai ajang mengoreksi diri. Mempersiapkan hati dalam menghadapi hari-hari hidup. Seiring peringatan hari kelahiran Yesus seiring itu pula terjadi kelahiran hidup baru dalam diri kita umat manusia. Disinilah saat yang tepat untuk mempersiapkan diri meyambut tahun baru dengan hati yang baru menyongsong lembaran hidup baru di tahun yang baru. Anggur yang baru lebih baik di isi dengan kirbat yang baru karena apabila anggur baru di isi dengan kirbat yang lama maka akan merusak kirbat tersebut. Bahkan dampa­­knya akan saling berpengaruh satu sama lainnya.

Natal memang telah menjadi satu adat kebiasaan bagi orang Papua, sehingga ketika Natal tiba tradisi pesta bunuh babi secara besar-besaran bagi setiap keluarga, gereja, desa ataupun kampung adalah hari yang mereka rayakan sebagai moment yang penting. Bila hal seperti itu tidak dilakukan lalu terlewatkan maka makna natal tidak terasa. Karena bagi orang Papua makna natal itu harus di maknai secara rohani maupun jasmani artinya perubahan apapun yang telah terjadi dalam manusia kita yaitu dalam kehidupan rohani, harus dirayakan dan disambut dengan pesta barapen atau bakar batu sebagai tanda sorak-sorai dan kegembiraan. Itulah bentuk penyambutan dengan luapan ekspresi dan apresiasi natal bagi orang Papua yang tentunya telah menjadi adat kebiasaan.

Untuk memaknai natal, tidak sedikit orang yang jual beli hewan peliharaan. Apa lagi babi menjadi salah satu konsumsi pilihan terbesar di Papua saat perayaan natal. Salah satu contoh yang dapat dilihat adalah di Pasar Karang Tumaritis (KARTUM) Nabire. Di pasar ini ada tempat khusus penjualan babi di pinggir Pasar yang berseberangan dengan Terminal. Beberapa hari sebelum natal penjualnya sudah mulai berjubelan, banyak dari luar Nabire yang datang jualan di Pasar KARTUM. Maka sebelum hari Natal semua orang sudah membelinya dan mempersiapkan di rumahnya masing-masing setiap kebutuhan natal mereka.

Pada tanggal 24 desember ada dua orang ibu jalan-jalan ke pasar tersebut untuk mencari babi. Disitu sangat banyak pilihan untuk mereka membelinya, namun sebelumnya mereka mengitari tempat itu dengan melayangkan pandangan mencari mana yang cocok untuk mereka membelinya, di situ mereka berdua menemukan tiga ekor babi yang tambun-tambun. Lalu didekatinya dan menjatuhkan pilihan untuk membeli dua ekor babi untuk keluarga mereka masing-masing.

Sesampainya dirumah mereka menaruh di kandangnya yang memang sudah dipersiapkan untuk menaruh hewan yang sudah dibeli untuk persiapan penyambutan acara perayan natal tersebut, untuk besoknya dikorbankan tepat pada tanggal 25 desember 2007. Hewan yang akan dikorbankan tersebut oleh keluarga Dogopia yang bertempat tinggal di Kaliharapan, mereka menaruhnya dalam kandang yang ditutupi dengan papan kayu besi. Yang tingginya sekitar dua meter beratap daun seng. Namun apa yang mereka temukan ke esokan paginya?.

Hari itu, pagi tanggal 25 desember, moment yang mereka tunggu-tunggu sekitar jam 05.12 Wita seorang anak muda keluar melihat babi yang dalam kandang. Ternyata hewan tersebut tidak ada didalam kandang tersebut, pintu masih tetap tertutup rapat sama seperti yang mereka tutup sesudah memasukkan hewan itu. Dia tidak ketinggalan akal lalu dicarinya sekeliling rumah dan kandang tersebut. Ternyata dari jarak dua meter dari kandang tersebut laki-laki itu menemukan bekas jejak berkaki manusia yang mengawali langkahnya dari situ. Ia mengikuti sejak tersebut sampai menemukan hewan tersebut berada satu kilometer dibawa tanaman salak. Yang sebelum dimasukkan dalam kandang yang mereka tempatkan, keempat kakinya diikat namun ditemukannya kedua kaki depannya dalam kondisi terbuka sedangkan kedua kaki belakang masih terikat seperti semula selayaknya sebelum dimasukkan kedalam kandang.

Yang menggagetkan keluarga tersebut adalah kalau memang ada kaki manusia tersebut adalah pencuri dan ingin mencuri kenapa tidak bongkar pintu kandang tersebut atau apakah babi tersebut punya kaki manusia. Karena saat dari hewan tersebut dimasukkan sampai saat kejadiaan tersebut tidak pernah ada teriakan babi dan tanda-tanda lain yang mencurigakan. Maka dengan keadaan tersebut mereka pikir masih dalam kondisi baik-baik saja. Namun mereka tidak menaruh rasa curiga yang berlebihan lalu babi itu mereka pikul bawa pulang ke rumah.

Sesampainya dirumah mereka bunuh hewan tersebut namun tidak ada darah satupun yang menetes keluar dari tubunya. Dengan kejadian inipun satu sama lainnya, mereka saling berbisik, ko kenapa tidak ada darah pada hal babi kalau dibunuh biasanya banyak darah yang keluar lewat hidung, mulut juga di bagian yang di tikam. Lalu mereka bakar buluhnya di atas bara api sampai bersih. Dan diambilnya pisau yang memang sudah dipersiapkan untuk memotong. Bapak dari keluarga tersebut memotong babi itu, ia mulai menaruh pisau tajam itu di atas dada kulit babi tersebut lalu menusukkan pisau sampai mengenai gemuk dan daging yang ada di dalam dan urat pun ikut terpotong hingga kelihatan. Namun yang tidak ada setetes darah pun yang mengalir selayaknya babi yang bila di potong bagian dada tersebut biasanya banyak darah yang mengalir memang karena disitulah letak urat yang mengalirkan darah yang di aliri ke seluruh tubuhnya. Tetapi ironisnya, yang mengalir adalah cairan putih seperti air yang sangat banyak yang dialirkan dari dalam babi itu. Saat itupun mereka mulai heran ko babi ini berbeda dengan babi yang lainnya tidaka ada darah setetespun.

Sehabis memotong semuanya, mereka siap untuk memasukkannya dalam bungkusan barapen (bakar batu masakan ala Papua). Di saat mau memasukkan tidak sedikit lalat besar pemakan bangkai yang biasanya berada di kuburan mengitari potongan-potongan babi tersebut dan tempat tumpukan daun serta sayur yang akan dicampur dengan babi untuk dimasak. Lalat-lalat itu berbau busuk yang sangat menyengat. Saat itu pulah tercium bau bangkai manusia yang keluar dari babi yang telah dipotong tersebut. Hal-hal yang mencurigakan telah terjadi namun mereka meresponinya seperti bisa dengan pemikiran bahwa ”setiap potong daging apapun pasti lalat banyak disitu” jelas ibu Dogomo.

Mereka mulai memasukkan sayur, daging babi, ubi, singkong kedalam barapen tersebut lalu mereka tutup. Beberapa jam kemudian mereka angkat dan saat itupun lalat besar itu kembali berdatangan mengitari barapen yang sedang mau diangkat seolah lalat-lalat itupun turut diundang pada jam membukaan bungkusan barapen tersebut. Setelah barapennya di buka semua, bukan aroma sedap yang tercium tetapi bungkusan itu adalah bungkusan bangkai yang seolah sudah membusuk tiga empat hari lamanya yang dagingnya sudah mulai terlepas dan hancur dari tulang-tulangnya. Tulang-tulangnya putih bersih karena tidak satupun daging dan urat yang melekat pada tulang-tulang babi tersebut. Daging dan gemuk pun sudah tidak ada. Kata ibu Dogopia ”daging dan gemuk yang ada dalam babi tersebut semua menjadi semacam cairan lendir berair yang mengeluarkan bau busuk”. Jelasnya.

Semua bungkusan barapen babi tersebut akhirnya di bawa ke Pasar KARTUM tempat awal di belinya babi tersebut. Sesampai di pasar, ibu itu menjejerkannya sambil meneriakan apa yang telah terjadi dan sambil memperingatkan warga akan apa yang terjadi adalah pernah terjadi di tahun yang lalu, natal 2006. Ketika semua orang berdatangan untuk melihat apa yang telah terjadi, tidak satu orangpun yang berani melihat dari dekat karena bau yang sangat menyengat itu. Mereka hanya bisa menyaksikannya dari kejauhan empat lima meter.

Ibu Dogopia menuntut dengan tegas agar yang punya babi untuk mengembalikan uang hasil penjualan babi busuk tersebut namun penjual tersebut tidak ada di tempat. Lalu ibu itu melaporkan kejadian tersebut ke polisi untuk tolong bantu mengusut dan mencari pelaku tersebut namun apa yang di jawab oleh polisi yang bertugas mengamankan pasar KARTUM itu adalah, katanya” nanti saya suruh wartawan untuk masukkan beritanya di koran jadi sabar saja mama supaya tidak terjadi lain kali nanti. Nanti kami juga panggilkan pihak berwajib, Dinas Peternakan dan Dokter hewan agar bisa periksa babi itu dan menangani masalah ini”. Tuturnya di depan klayak ramai itu.

Sangat di sayangkan komentar seorang penegak hukum dan dia sendiri adalah pihak berwajib yang tentunya meresponi keluhan masyarakat apa yang telah terjadi, namun dia mengalikan ke pihak yang mestinya tidak secara langsung terlibat. Tanggung jawabnya dilemparkan kepada pihak lain yang bukan kerjaan mereka. Begitulah Polisi Indonesia yang selalu tidak berpihak pada masyarakatnya, lebih khusus masyarakat Papua. Namun yang selalu bekerja berdasarkan kepentingan. Semboyang yang selalu terpampang, ” polisi sahabat, pelayan, dan pengayom masyarakat adalah topeng pembohongan penutup moral atas tindakan bobrok mereka ”. Seharusnya tugas mereka adalah mengusut tuntas pelaku tersebut namun berbagai dali di pakainya. Wah.... kalau begitu terus kapan kejujuran, keadilan dan kebenaran di tegakkan. Petugas penegak kejujuran, keadilan dan kebenaran saja tidak tahu tugasnya dan tidak jujur juga tidak beres. Bapak-bapak penegak hukum semoga bisa berfungsi sesuai tugas yang diembangnya dan berlaku adil di atas tanah Papua ini.

Selama sore tanggal 25 desember ibu itu menjejerkan hewan busuk itu, namun tidak ada respon dan tindak lanjut dari petugas keamanan yang bertugas menjaga tempat itu maka akhirnya ibu Dogopia membuang babi busuk itu di tong sampah. Dan semua orang yang ramai itu membubarkan diri.

Berharap semoga tidak ada babi ngepet berkaki manusia yang membangkai dalamnya, tahun depan. Mari kitong orang rayakan natal dengan didorong oleh hati nurani yang murni dan bersih, tidak ada dorongan hati yang buruk dan merugikan sesama. Mari bangkit sambut dan rayakan sukacita natal tanda kehidupan baru bagi dunia dengan kemurnian hati. (ellya alexander tebay).

Minggu, 02 Maret 2008


Kamis, 21 Februari 2008

Jumat, 04 Januari 2008


Selasa, 01 Januari 2008

Minggu, 30 Desember 2007

Kamasan, Induk Seni Lukis Wayang Klasik Bali

KAMASAN hanya sebuah desa kecil di Kabupaten Klungkung, Bali. Kategori desa "kecil" antara lain dari wilayah dukungannya yang hanya seluas 249 hektar. Juga penduduknya hanya sekitar 3.400 jiwa yang tersebar dalam 10 banjar adat atau 4 dusun desa pemerintah. Sementara sosok desa kini berwajah sendu meski hanya sekitar empat kilometer selatan Semarapura, ibu kota Kabupaten Klungkung.
KESAKSIAN pekan kedua Agustus lalu mencatat, desa berjarak 42 kilometer timur Denpasar itu tidak lagi menggeliat seperti dulu. Kamasan, yang pernah dikungjungi wisatawan asing hingga berjumlah 4.000 orang per hari, kini sepi. Dengan sendirinya karya seni berupa lukisan wayang kulit, yang sejak lama menjadi kekuatan dan kebanggaan Kamasan, pasarannya ikut sepi. Bahkan, harganya terpaksa dibanting hingga separuhnya.
Sesungguhnya, keganasanpeledakan bom di Bali, 12 Oktober 2002, memang telah menghancurkan pariwisata provinsi ini, termasuk Kamasan. Dengan demikian maklum saja kalau sosok desa ini tiba-tiba menjadi sendu. Namun dibalik itu, Kamasan tetap saja menyimpan daya tarik khasnya yang layak "dipanggungkan". Adalah tidak berlebihan menyebutkan desa kecil itu sebagai induknya seni lukis wayang kulit yang kini berkembang luas di Bali.
Menyebut Kamasan sebagai induk seni lukis wayang kulit Bali, tentu bukan tanpa alasan. Lacak saja melalui sejarah seni lukis Bali. Posisi Kamasan tidak bisa diabaikan begitu saja. Sejarahnya mencatat, Kamasan turut mewarnai geliat perjalanan seni lukis Bali. Desa ini bahkan dikenal sebagai "gudang"-nya karya seni lukis wayang klasik, hasil torehan para seniman yang adalah warga kampung itu sendiri. Coraknya pun khas hingga tidak sulit memastikan lukisan wayang asal Kamasan.
Masih menurut catatan sejarah, seni lukis wayang (tradisional) ini berkembang di Kamasan dan daerah lain di Bali sejak zaman Kerajaan Majapahit. Antara abad ke-14 hingga abad ke-18, Pulau Bali dikuasai para Dalem, raja-raja keturunan Sri Kresna Kepakisan dari Kerajaan Majapahit.
Selama Dinasti Kepakisan memegang tampuk kerajaan, Bali mengalami masa kejayaan. Sejarah mencatat, kekuasaan raja Bali zaman itu pernah meliputi pesisir Jawa Timur, Lombok, bahkan sampai Sumbawa. Salah satu Dalem yang paling dikenal adalah Sri Waturenggong, cucu Sri Kresna Kepakisan. Pada masa pemerintahan Dalem Waturenggong ini, seni budaya di Bali mengalami masa pencerahan karena sang raja juga penggemar seni budaya.
Dikisahkan Dalem Waturenggong membangun istananya di Desa Gelgel, yang dikenal sebagai Puri Suwecapura, Istana Karunia. Dari tempat ini, Dalem Waturenggong menata urusan pemerintahan dan keamanan negara. Sementara pada saat yang sama, Kamasan– sebelah utara Gelgel-ditatanya sebagai salah satu pusat kerajaan yang khusus mengurus seni budaya, pendidikan, dan keagamaan. Nama Kamasan dalam prasasti Anak Wungsu yang bertahun Saka 994 (1072 M) berarti benih yang bagus.
POSISI Kamasan dengan peran khusus di waktu silam itu ternyata menjadi benih subur tumbuhnya potensi kesenian terutama seni lukis wayang kulit. Warga sekitarnya seakan terbius untuk mengembangkan bakat seni yang mereka miliki. Selanjutnya "kandungan" Kamasan terus melahirkan seniman. Sebut saja salah satunya kini adalah I Nyoman Mandra (57) yang hasil karyanya pernah dipamerkan sampai ke Bentara Budaya, Jakarta.
Kepala Desa Kamasan Nyoman Sidharta Yoga ketika ditemui di desanya melukiskan, Kamasan dengan urusan khusus di waktu lampau itu, seakan tetap dipertahankan hingga sekarang. Ia mengakui, tiga dari empat dusun di desanya, yakni Dusun Sangging, Dusun Pande Mas, dan Dusun Tabanan, rata-rata warganya adalah seniman termasuk seniman lukis wayang kulit. Kecuali satu dusun lainnya, Dusun Kacang Dawa, yang sebagian besar penduduknya adalah petani.
Monografi Desa Kamasan (Juli 2003) mencatat di tiga dusun dimaksud kini tumbuh tiga jenis industri rumah tangga utama. Selain menggeluti kerajinan lukisan, juga ada kerajinan perak dan emas, industri kerajinan kuningan dan selongsong peluru.
I Nyoman Mandra mengakui, beragam kerajinan terutama seni lukis wayang yang diketahui cukup lama redup, mulai bangkit lagi sekitar tahun 1970-an. Katanya, letusan Gunung Agung tahun 1963 ternyata menjadi peristiwa bersejarah yang antara lain turut membangkitkan seni lukis wayang di Desa Kamasan. Petani beralih menjadi seniman karena sawah dan ladang mereka hancur diterjang lahar Gunung Agung.
Selain untuk kepentingan ritual keagamaan, seperti untuk ider-ider (kain hiasan), kober (bendera), dan lelontekan (panji), lukisan wayang juga digunakan sebagai dekorasi, seperti penghias dinding Bale Gede. Kegunaan ini justru semakin melestarikan seni lukis wayang Kamasan hingga kini. Salah satu bukti yang menunjukkan betapa populernya lukisan wayang Kamasan adalah hiasan langit-langit Taman Gili dan Kertha Gosa, dua bangunan dari zaman Kerajaan Semarapura. Kedua bangunan kuno itu kini menjadi salah satu obyek wisata andalan Klungkung.
Gaya lukisan wayang Kamasan memang unik hingga mampu menarik minat turis berkunjung ke desa tersebut. Spies dan Bonnet, dua maestro seni lukis yang sangat berpengaruh dalam perjalanan seni lukis di Bali, pernah mondok di Kamasan. Bahkan, Spies meninggalkan seperangkat gamelan selendro untuk masyarakat Kamasan. "Masyarakat di sini tidak mengenal nama Spies, tapi Mister Tepis," kata Sidharta sambil tertawa.
SEIRING terpuruknya pariwisata Bali akibat tragedi bom 12 Oktober tahun lalu, Kamasan pun tidak luput terkena imbasnya. "Saat ini mungkin sekitar sepuluhan seniman lukis yang masih bertahan, atau mungkin sudah kurang. Ada yang sudah beralih profesi," ujar I Nyoman Mandra, pendiri Sanggar Lukis Tradisional Wayang Kamasan, dengan nada pelan. Kerutan di dahinya semakin jelas terlihat. Padahal, di monografi desa itu masih tercatat 40 seniman lukis yang tersebar di tiga dusun desa itu.
Diakui ada yang tetap bertahan sebagai seniman. Namun, tidak sedikit di antaranya sudah bekerja serabutan demi periuk nasi keluarga. "Kondisi seperti ini sudah berlangsung hampir dua tahun, sejak kejadian WTC (World Trade Center) tahun 2001 itu. Lalu Kamasan semakin terpukul lagi menyusul bom Bali," tutur Mandra.
Sebelum tragedi tersebut, booming pariwisata di Bali antara lain dinikmati para penoreh tradisi ini. Peningkatan kunjungan wisatawan ke provinsi ini dalam dua dekade turut meningkatkan kehidupan ekonomi seniman Kamasan.
"Dulu, setiap tahun ada tiga kali kunjungan tamu-tamu grup kemari, biasanya dari Eropa dan Amerika. Satu grup, paling sedikit 20 orang. Sekarang, lima orang saja sudah cukup," tutur Mandra. Meredupnya seni lukis Kamasan kini antara lain dari berlembar-lembar lukisan wayang beragam ukuran yang terlihat kotor berbalut debu di tempat pajangannya. Itu pertanda pasarannya sepi.
"Kami terpaksa jual murah. Dalam kondisi normal, sebuah lukisan tertentu biasanya kami jual Rp 200.000, sekarang cukup Rp 100.000. Orang-orang yang punya duit kini lebih mengutamakan pengeluaran yang pokok-pokok dulu, untuk lukisan bisa belakangan," ujar Mandra. Contoh lainnya, selembar lukisan wayang berukuran 80 x 150 sentimeter dengan bahan pewarna tradisional, dijual Rp 2,5 juta atau hanya separuh dari harga sebelumnya.
Meskipun demikian, Mandra tetap mengakui, seni lukis wayang kulit adalah tradisi kebanggaan Kamasan. "Karena itu kami, termasuk saya, tetap pertahankan tradisi ini, terus melukis," tegas Mandra. (COK)

membangun kesetaraan kultural

Membangun Kesetaraan KulturalMemahkotakan Budaya Terpinggir...
DISKUSI-DISKUSI kecil di ruang kelas Pascasarjana (Wacana Sastra) Unud telah membetot saya untuk menggali tradisi-tradisi lokal terpinggir untuk memberikan pencitraan virtual setara dengan tradisi besar yang selama ini menyerbu ke seluruh plosok tanah air. Lebih-lebih bila diskusi sudah membincangkan sastra dan kebudayaan Nusantara, benar-benar keindahan filosofi ''Bhinneka Tunggal Ika'' tercermin di situ. Bahasa daerah yang dipakai medium mewahanai pun tampak sangat elegan menyentuh wilayah estetis. Dalam pada itu, nilai-nilai yang dibungkus sangat humanistis dalam kerangka pengembangan adab kemanusiaan yang oleh Rahimah Haji A. Hamid (2005), disebut sebagai tradisi yang ditamadunkan untuk membangun jiwa pendukungnya. Dengan demikian, memahkotakan budaya terpinggir dimaksudkan untuk membangun kesadaran baru demi kesetaraan kultural dalam arti memberikan ruang gerak sekaligus ruang apresiasi secara lebih luas bagi tradisi-tradisi yang selama ini dipinggirkan melalui gerakan penyeragaman kultur.
Ternyata kegelisahan dalam arti kepedulian akan tradisi terpencil itu bukan hanya terjadi di Indonesia (Unud), melainkan juga terjadi di Malaysia. Buku berjudul ''Teori dan Kritikan Sastera Melayu Serantau'' yang diterbitkan Dewan Bahasa dan Pustaka Kementerian Pelajaran Malaysia Kuala Lumpur 2005 misalnya, memberikan gambaran betapa pada masa kolonial, pihak penjajah membungkam pribumi untuk tinut pada politik kekuasaan. Dikaitkan dengan politik etis yang dikembangkan Belanda pada awal abad ke-20, tampaknya penjajah Belanda pun menginginkan Indonesia berada di bawah kuasanya. Masuk akal, jika kemudian gerakan Ki Hajar Dewantara melalui Taman Siswa pada 1922 di Yogyakarta mendapat perhatian serius dari pemerintah Belanda. Pasalnya, dunia baru yang ditawarkan Ki Hajar Dewantara adalah paham kebangsaan (nasionalisme) yang digali dari akar budaya bangsa Indonesia. Jelas sekali budaya demikian, budaya yang menghormati tradisi yang berakar tunggang di bumi pertiwi Indonesia, bukan berakar di kepala kaum penjajah. Dengan demikian, tokoh pendidikan ini bukan hanya mewacanakan gerakan multikultural, melainkan juga mewujudnyatakan dalam sikap perjuangannya. Hal inilah tampaknya perlu digemakan serangkaian Hari Pendidikan Nasional setiap 2 Mei dengan pertimbangan bahwa keindonesiaan bangsa ini sejatinya ditenun dengan benang perbedaan yang membentang dari Sabang sampai Merauke.
Dalam kaitannya dengan pendidikan multikultural pad era otonomi daerah, dunia sastra tampaknya pantas diapresiasi guna mendapatkan inspirasi yang sesungguhnya sebab sastra merupakan potret masyarakat zaman. Sastra telah berhasil mendokumentasikan berbagai budaya daerah plus kearifan lokal yang melingkupi. Di Tanah Toraja misalnya, menurut Shaleh Saidi (2003:39-44) terdapat kesastraan Bare'e yang berfungsi memberikan kesenangan (rekreatif) dan pelajaran (edukatif) di samping fungsi utamanya sebagai ritual keagamaan. Kesastraan Bare'e itu umumnya berbentuk puisi ada yang berupa teka-teki (di Bali disebut cacimpedan) yang disebut wailo, ada yang menyerupai pantun yang disebut bolingoni (di Bali disebut wewangsalan), ada yang berbentuk tembang (nyanyian) yang disebut Tenke atau doddenzang (di Bali disebut Macepat), ada yang berbentuk wurake, yang hanya boleh diucapkan para pendeta untuk keperluan penyembuhan orang sakit. Di Bali yang terakhir ini biasanya dipakai oleh Balian Usaha untuk kepentingan pengobatan.
Tidak hanya itu, keterkaitan juga tampak dalam ritual agama, khususnya yang bertalian dengan tradisi agraris. Bukan hanya dalam hubungan komparasi antara kekayaan batin dengan Tanah Toraja, kekayaan batin etnis Bali pun ternyata bersinergi dengan tradisi-tradisi di daerah Padang, terutama yang bertalian dengan tradisi agraris. Dengan demikian, dasar peradaban budaya Nusantara relatif sama yaitu bermula tanah pertanian. Oleh karena itu, upacara ritual pun diarahkan ke tanah diiringi dengan mengapresiasi (menyuarakan) kesastraan demi mendapatkan panen sebaik-baiknya. Di kaki Pulau Bali, khususnya di Desa Adat Kutuh tradisi itu diterjemahkan dengan ritual masugu sebelum panen. Dalam skup yang lebih luas, upaya penghormatan dilakukan secara lebih universal melalui Tumpek Warifaga (Tumpek Bubuh, Tumpek Pengarah). Dari nama-nama itu mencerminkan betapa petani menghargai alam dengan kesadaran waktu berdasarkan ala ayuning dewasa (wariga), saat mempersembahkan sesuatu kepada Sang Pencipta berupa bubuh 'penganan yang diolah sepenuhnya dari hasil pertanian' sehingga persembahan itu diniatkan untuk mengarahkan kembali (Pengarah) para petani mengolah tanah berdasarkan swadarmanya menuju kemenangan yang berpuncak saat Galungan.
Menariknya lagi, tradisi demikian seakan menjadi ''lagu wajib'' bagi perempuan Bali sehingga tidak berlebihan jika Oka Rusmini (2003: 49) melalui puisi berjudul ''Monolog Pohon'' berdesah, ''dari akar kau ajari aku mengenal tanah/membiarkan perwujudanku menyentuh kedalamannya/ dari batang kauhancurkan perisai api/menuntunku hati-hati sementara pementasanku masih tertinggal di tanahmu...''
Wilayah ritual yang menjadi bagian keseharian wanita Bali semestinya menjadi penguat bagi mereka untuk tampil lebih percaya diri. Sebab, ritual-ritual itu merupakan banten penyadaran (baan enten) yang merupakan terjemahan dari tetuasan sastra. Pemaknaan ritual yang ditarik ke arah diri itu menjadi penting artinya sehingga kesan perempuan dipinggirkan atau di persimpangan jalan sebagaimana dituduhkan oleh STA (1996) dalam kumpulan sajaknya bisa dieliminasi. Kalau itu sudah dipahami, perempuan pun bisa bersaing tak kalah dengan laki-laki. Dengan demikian, ia tidak lagi termarjinalisasi, yang oleh STA digambarkan melalui sajak berjudul ''Bukan Makhluk Kedua''. Di situ, disebutkan, ''...Ketika pintu sekolah/Pintu masyarakat dan kebudayaan/Terbuka bagiku/Kurasakan dan kualami/Bahwa kecakapan dan kepandaianku/Tak kurang dari lelaki yang mana sekalipun...''
Begitulah, sejak zaman kolonial, telah terjadi peminggiran-peminggiran budaya pribumi apalagi di daerah pedalaman dengan maksud implisit mengagungkan budaya yang dibawa penguasa, dalam hal ini kaum penjajah. Padahal, tidak tertutup kemungkinan pendalaman secara intens budaya terpinggir itu oleh pendukungnya sangat mungkin terjadi. Dengan cara itulah mereka menerjemahkan pendidikan dalam arti memaknai tradisi-tradisi yang diwariskan secara turun-temurun. Dalam konteks ini, transpormasi budaya berlangsung secara alamiah dengan memahkotakan budaya terpinggir. Tujuannya jelas untuk membangun kesetaraan kultural sehingga dikotonomi pusat dan pinggiran nyaris berimpit dalam satu garis sebab keduanya berebut posisi sesuai dengan zenithnya masing-masing.